Archive for October, 2008

Autokritik Tindakan dan Egoisentrik Manusia

Monday, October 20th, 2008

Autokritik Tindakan dan Egoisentrik Manusia Terhadap Alam

Manusia merupakan makhluk hidup yang diciptakan lebih tinggi derajatnya dari semua makhluk yang diciptakan Allah dibumi. Manusia memiliki akal pikiran dan budipekerti yang membedakan dengan makhluk-makhluk lain di muka bumi ini.

Ketika pertamakali muncul kedunia, seorang anak menjadi makhluk kecil didunia yang begitu besar, untuk pertamakalinya juga dia menerima nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan YME, nikmat yang ada sebagai hasil olah alam semesta. Manusia mulai dapat bernapas, menghirup O2 yang diciptakan oleh alam. Suatu budi pekerti yang diajarkan dan diterima oleh manusia untuk pertamakalinya yaitu untuk dapat memberi kehidupan tanpa harus menerima balasan. Itu semua berawal dari Alam dimana ia mulai menginjakan kakinya. Setiap saat manusia terus berkembang dan tanpa disadari manusia kecil yang lucu menjadi seorang dewasa yang memiliki karakter dalam bertindak dan persepsi sendiri tentang alam.

Nilai-nilai harpiah yang telah diajarkan kepada manusia tentang alam sejak kecil, ketika ia menjadi besar sudah tidak banyak yang ia ingat, ia tak lagi ingat tentang roh-roh yang menjaga gunung, hutan, sungai, yang akan melukai siapa saja yang tidak menjaga tempat mereka. Nilai-nilai yang selalu diajarkan dan didongengkan oleh orang tua kita sebelum tidur, tetapi nilai-nilai tersebut dianggap kolot dan hanya tahyul saja. Manusia menjadi seorang yang lebih menyukai hal-hal yang realistis, manusia menemukan bahwa pencapaian hidup adalah bagaimana mereka dapat memenuhi kebutuhannya, kemudian bagaimana ia dapat menjadi seseorang yang bernilai dilingkungannya.

Semua itu kadang membuat manusia lupa siapa dirinya, sangat disayangkan ukuran kesuksesan itu diukur dari nilai-nilai materi, memang modernisme sebagai hasil kapitalisme membuat manusia lebih hidup secara dinamis, berpikiran rasional, mencapai apa yang mereka inginkan dengan segala cara walaupun dengan tidak sengaja atau disengaja ia akan merusak dan mengotori alam yang telah memberikan kehidupan kepadanya. Tetapi terkadang rasionalitas manusia melampaui nilai-nilai harpiah mereka sebagai makhluk yang diciptakan lebih tinggi derajatnya oleh Tuhan, manusia tidak lagi memiliki akal dan budi pekerti dalam hidup. Sebuah manifesto dimana manusia hidup untuk dirinya sendiri, manusia menjadi makhluk yang egois dan tidak mau sedikit mengerti tentang keluh kesah alam yang sudah makin tua. Manusia tidak lagi memperdulikan pertanyaan-pertanyaan kecil seputar dirinya. Who are You?, Who am I?, pertanyaan itu dimulai ketika manusia muncul kebumi dan ketika manusia menjadi orang dewasa yang seharusnya dapat bersikap bijak, karena selanjutnya ia akan ditanya What’s for? Untuk apa ia menjalani hidup didunia? Sebagai manusia seharusnya kita dapat menghormati alam sebagaimana ia telah menyediakan keperluan dasar kita untuk dapat hidup, tidak lantas kita menjadi orang yang tinggi hati dengan segala kedudukan dan peran sosial kita di muka bumi dengan menganggap kita dapat mengendalikan alam dan menganggap kita lebih besar dari alam, karena sejujurnya manusia belum mengetahui seberapa besar ala ini menyimpan misterinya.

ARTI KEBEBASAN PADA LIBERALISME

Monday, October 20th, 2008

ARTI KEBEBASAN PADA LIBERALISME

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi(private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.

Pandangan ekonom liberal radikal Adam Smith mengatakan jika kita biarkan orang bebas menghasilkan serta bertukar barang dan jasa, masyarakat dapat menikmati kehidupan ekonomi yang optimal. Dengan kata lain, singkirkan perencanaan terpusat dari pasar, biarkan dunia usaha, dan kita akan melihat produksi, distribusi, dan konsumsi yang optimal. Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Hak-hak dan kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui demokrasi yang sejati. Demokrasi sejati tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetujuan yang dilakukan dengan sadar, bebas, dan yang diketahui benar (enlightened) dari kelompok mayoritas, yang diungkapkan melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan pandangan-pandangan kaum minoritas.

Dalam teori kebebasan, individu dimungkinkan memaksimalkan pencapaiannya ( self-achievement ) sesuai dengan apa yang ia inginkan. Jika setiap individu mendapatkan hasil yang maksimal, masyarakatpun akan memperoleh kemajuan puncak. Setiap individu mendapat ruang gerak yang luas untuk melakukan eksperimen dan berkompetisi sejauh ia tidak melanggar kebebasan pihak lain dan terjaring oleh hukum kriminal.

Dalam bukunya Ian Shapiro: Evolusi Hak Dalam Teori Liberal mengkaji beberapa pandangan Hobbes tentang hak dan kebebasan bahwa hak itu terancam oleh kekacauan yang terjadi pada masanya, karena orang bersepakat untuk tunduk pada penguasa absolute, jadi masih tersisa hak unuk hidup bagi masyarakat , sedangkan hak politik individu merupakan hak yang diberikan oleh penguasa menurut pertimbangannya sendiri. Dengan demikian suatu konsep teori kontrak yang bersifat individualis menghasilkan hukum berdasarkan kekuasaan (command theory of law ).

Sesungguhnya jika raja memiliki uang, mudah baginya memperoleh prajurit yang cukup untuk seluruh inggris. Karena hanya sedikit sekali yang benar-benar peduli mengenai untuk siapa mereka berjuang, namun akan memihak pada siapa saja demi uang atau kesempatan bagi siapa saja untuk menjarah. Tetapi pundi-pundi raja kosong, dan musuh-musuhnya, yang mengaku berjuang untuk meringankan beban pajak rakyat, dan hal-hal lain yang enak didengar telinga, menguasai pundi-pundi kota London, sebagian kota lain, baik yang besar dan kecil di Inggris, dan juga pundi-pundi orang-orang tertentu ( Hobbes,1966)

Dari segi market atau pasar, liberalisme telah membawa perubahan besar terhadap dinamika internasional. Pasar yang dikelola secara open market menjadikan korporasi-korporasi raksasa dengan mudah memasuki segala sendi kehidupan masyarakat diseluruh dunia. Otoritas negara kadang dengan mudah dipengaruhi atau malah dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan tersebut demi kepentingan mereka.

Jeff Faux, Presdir Economic Policy Institute tahun 2001 di AS mengatakan bahwa pendapatan rata-rata dari 80 negara terkaya didunia adalah sebesar 77 kali pendapatan 10 negara miskin. Sistem ekonomi global sekarang memungkinkan bagi perusahaan-perusahaan raksasa ( TNCs- Trans National Corporations) untuk meningkatkat kekuasaan dan kekayaannya. Pada gilirannya untuk melakukan kontrol politik terhadap dunia, WTO ( Word Trade Organitation ) menciptakan kondisi dimana TNCs dan bank dapat memindahkan modal, tekhnologi , barang, dan jasa secara bebas dari negara manapun didunia, tanpa terhalangi oleh regulasi negara tersebut dan pemerintahan demokratis dinegara tersebut.

Dikatakan pula bahwa liberalisme dapat tumbuh selaras dengan keadaan suatu negara yang multikultural seperti halnya di AS, perancis,dan negara-negara Eropa lainnya. Tetapi apakah sistem tersebut cocok jika di terapkan dinegara-negara dunia ketiga atau mengutif istilah Bung Karno dengan “Nepos” ?. Kebebasan yang dijanjikan kaum Libertarian,mengutif istilah Hegelian bagi para penganut sosialis, hanyalah suatu impian yang diimpi-impikan bagi masyarakat miskin di negara-negara dunia ketiga, tidak mungkin dapat dicapai jika masih tetap mengandalkan kontrak sosial yang hanya meguntungkan para pengusaha dan pemilik modal, tidak sesuai dengan declaration of Indevendences yang disusun oleh Thomas Jefferson bahwa individu harus dibebaskan membuat kontrak dengan individu lain, dalam membuat kontrak ( voluntary exchange ) yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak

Indonesia memang tidak sepenuhnya menganut liberalisme, tetapi sistem ekonomi campuran yang sesuai dengan teori Keynes yaitu tetap berdasarkan atas pasal 33 UUD’45. Akan tetapi, perekonomian kita memang terlihat cendrung liberal atau sangat liberal dibeberapa sisi. Hal inilah yang seharusnya diperhatikan oleh pemerintah, bahwa sistem ekonomi Indonesia haruslah tetap terfokus kepada bagaimana caranya untuk meningkatkat kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan amanat pancasila dan undang-undang 1945, bukan menciptakan kesejahteraan bagi sebagian golongan saja, apalagi mengikuti berbagai syarat investasi asing yang hanya akan memperluas kekuasan mereka akan sumber-sumber ekonomi nasional. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang eksis dalam percaturan internasional mau tidak mau harus mengikuti arus liberalisasi dan varian-variannya, tetapi pemerintah diharapkan mampu menjalankan strategi ekonomi yang bijak yang dapat menghasilkan suatu formula untuk mencapai kesejahteraan kolektif yang diidam-idamkan, yaitu melalui mengkombinasikan berbagai sumber daya yang ada dan dengan menerapkan pengawasan yuridis yang ketat terhadap pasar, serta lebih berupaya untuk dapat meningkatkan ekonomi domestik.

Saya setuju dengan pendapat hobbes untuk mencapai kekuasaan atas pengelolaan hak-hak rakyat tidaklah dilakukan dengan jalan terror tetapi melalui pendekatan rasional. Karena sekalipun masyarakat dicekoki dengan berbagai ideologi yang dibawa oleh kelompok keagamaan, ekonomi, intelektual, dengan tujuan masing-masing, sekalipun prinsip-prinsip itu benar rakyat jelata kurang mampu memahaminya. Dan untuk memahami liberalisme perlu adanya pendidikan politik terhadap masyarakat, tentunya melalui peningkatan kualitas pendidikan yang juga harus diterapkan oleh negara-negara penganut liberalisme baru seperti halnya Indonesia.

Dari segi budaya dan sosial, liberalisme memang membawa perubahan terhadap tingkah laku masyarakat. Budi pekerti dipandang dari sejauh mana setiap orang mengekspresikan dirinya tanpa mengganggu kepentingan orang lain. Tetapi kebebasan itu sudah terlampau jauh dari ciri-ciri manusia yang beradab. Hedonisme dan matrealisme merupakan produk dari liberalisme yang sangat tidak sesuai dengan penciptaan manusia. Selayaknya manusia kembali kepada fitrahnya, manusia yang beradap bukan dilihat dari kemajuan fisiknya, tetapi kemajuan cara pandang dan sikap dalam mengisi kehidupan sebagai suatu yang berarti, sebagai suatu nilai ibadah kepada sesame,lingkungan, dan Tuhan YME. Dan untuk mengakomodir itu semua manusia harus kembali kepada norma-norma sosial yang telah lama ada yang merupakan suatu aturan yang arif tentunya.

Sumber:

1. Tibor R. Machan. Kebebasan dan Kebudayaan: Esai-esai Tentang Masyarakat Bebas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2006.

2. Ian Shapiro, Evolusi Hak Dalam Teori Liberal , terjemahan Masri Maris ( Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006)

3. George,Susan, Refublik Pasar Bebas “ Menjual Kekuasaan Negara, Demokrasi,dan Sipil Society Kepada Kapitalisme Global”, terjemahan Esti Sumarah ( Jakarta: : PT.Bina Rena Pariwara,2002).

4. John Redwood, Kapitalisme Rakyat, terjemahan Zoelkifli Kasip ( Jakarta: Pustaka Utama Graviti, 1990).

5. www.wilkipedia.org.